Beranda / Nasional / Erupsi Gunung Anak Krakatau: Momen Langka Terekam Nelayan dan Warga Pesisir

Erupsi Gunung Anak Krakatau: Momen Langka Terekam Nelayan dan Warga Pesisir

Majalah HISTORY – BANTEN – 06 September 2026 – Pemandangan menakjubkan sekaligus mengerikan terjadi di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Sabtu malam 00:20 WIB., sampai Minggu (6/9/2026), Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi, menyemburkan kolom abu vulkanik setinggi ribuan meter ke angkasa. Fenomena alam ini berhasil didokumentasikan langsung oleh nelayan yang sedang melaut dan disaksikan puluhan warga pesisir pantai yang terjaga dari tidur.

Momen Langka di Tengah Laut

Saat erupsi terjadi, sejumlah nelayan dari Desa Sumur dan Desa Carita sedang berada di tengah laut untuk mencari nafkah. Mereka awalnya dikagetkan dengan suara dentuman keras yang terdengar seperti ledakan besar. Tak lama kemudian, asap hitam pekat mulai membubung tinggi dari puncak Gunung Anak Krakatau.

“Kami sedang menarik jaring, tiba-tiba terdengar suara ‘gemuruh’ yang sangat keras. Langit di arah Krakatau seketika berubah menjadi gelap gulita. Saya langsung merapal doa sambil mengarahkan perahu menjauhi area tersebut,” ujar Ujang (42), salah satu nelayan yang merekam momen erupsi tersebut menggunakan ponselnya.

Video berdurasi 1 menit 30 detik itu menunjukkan kolom abu vulkanik yang terus meninggi, disertai kilatan api di beberapa titik. Material vulkanik tampak jatuh ke sekitar tubuh gunung, sementara laut di sekitarnya terlihat bergejolak hebat.

Warga Pesisir Saksikan Langit Berubah Gelap

Di daratan, warga pesisir pantai Carita dan Labuan juga menjadi saksi bisu kekuatan alam tersebut. Beberapa warga yang sedang beraktivitas di luar rumah langsung berhenti dan menyaksikan fenomena langka itu dengan campuran rasa takut dan kagum.

“Saya sedang menyapu halaman, tiba-tiba langit di sebelah barat berubah menjadi oranye kemerahan, lalu diikuti asap hitam yang menutupi matahari. Suaranya terdengar terus-menerus, seperti petir yang tak kunjung reda,” kata Siti (38), warga Kecamatan Carita.

Warga segera mengamankan diri ke rumah masing-masing dan menutup pintu serta jendela untuk menghindari masuknya abu vulkanik. Beberapa warga juga mengunggah foto dan video erupsi ke media sosial, yang dengan cepat viral dan menjadi perbincangan netizen.

Pantauan Pihak Berwenang

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menaikkan status Gunung Anak Krakatau ke level Siaga (Level III). Masyarakat diimbau tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah, serta waspada terhadap potensi awan panas dan tsunami kecil akibat runtuhan material vulkanik ke laut.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pandeglang menyatakan tim gabungan telah diterjunkan ke lokasi untuk memantau situasi dan memberikan peringatan dini kepada warga. “Kami terus memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan BMKG. Warga diimbau tetap tenang dan mengikuti instruksi keamanan yang diberikan,” ujarnya.

Pesan untuk Masyarakat

Meskipun erupsi ini terlihat spektakuler, pihak berwenang mengingatkan masyarakat untuk tidak mendekati zona bahaya. Wisatawan yang berencana mengunjungi Gunung Anak Krakatau diimbau menunda kunjungan hingga kondisi dinyatakan aman.

Erupsi Gunung Anak Krakatau kali ini menjadi pengingat bahwa alam selalu memiliki kekuatan yang luar biasa. Bagi nelayan dan warga pesisir yang menyaksikannya langsung, momen ini akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan — sebuah bukti betapa kecilnya manusia di hadapan kekuatan alam semesta.

(Red/JS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *