
Majalshhistory.my.id, Jakarta- (15/08/2026).
al Ibrahim Datuk Sutan Malaka (2 Juni 1897 – 21 Februari 1949), juga dikenal sebagai Tan Malaka, adalah seorang negarawan, guru, penganut paham Marxisme, dan filsuf Indonesia yang merupakan pendiri Persatuan Perjuangan dan Partai Murba.
Ia juga dikenal sebagai pejuang, pahlawan nasional, gerilyawan independen, dan mata-mata Indonesia.
Tempo menjulukinya sebagai “Bapak Republik Indonesia”.
Tan Malaka, potret sebagaimana dimuat dalam autobiografinya
Lahir:
Ibrahim
2 Juni 1897
Suliki, Lima Puluh Kota, Hindia Belanda.
Meninggal:
21 Februari 1949 (umur 51)
Selopanggung, Kediri, Indonesia
Sebab meninggal
Eksekusi dengan regu tembak (tanpa proses peradilan)
Nama lain:
23 alias
Penghargaan
Pahlawan Nasional Indonesia
Era
Filsafat modern
Filsafat abad ke-20
Kawasan
Filsafat Timur
Filsafat Indonesia
Minat utama
Epistemologi, Sosialisme, Marxisme, Trotskyisme, Pan-Islamisme
Gagasan penting
Madilog, Marxisme Nasional, 100% Indonesia merdeka
Pahlawan Nasional Indonesia
S.K. Presiden No. 053/TK/1963 tanggal 28 Maret 1963.
Keluarga, Masa Kecil dan masa Muda
Rumah kelahiran Tan Malaka
Nama lengkap Tan Malaka adalah Ibrahim gelar Datuk Sutan Malaka. Nama panggilan aslinya adalah Ibrahim, tetapi ia dikenal baik sebagai seorang anak dan orang dewasa sebagai Tan Malaka, sebuah nama kehormatan dan semibangsawan, ia mewarisi dari latar belakang bangsawan ibunya.
Ia lahir di Pandam Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota yang saat itu berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda.
Tanggal lahirnya tidak jelas, dan bervariasi dari sumber ke sumber, tetapi kemungkinan antara tahun 1894 dan 1897.
Ayahnya adalah HM. Rasad Caniago, seorang buruh tani, dan ibunya Rangkayo Sinah Simabur, putri seorang tokoh terpandang di desa tersebut.
Sehingga dari nama ibunya, dapatlah diketahui bahwa ia berasal dari suku Simabua.
Sebagai seorang anak, Tan Malaka tinggal bersama orang tuanya di Suliki, mempelajari ilmu agama Islam yang kaffah, menghafalkan Quran di luar kepala serta mempelajari seni bela diri pencak silat.
Selain itu, ia juga belajar ilmu tasawuf kepada Syekh Abdul Wahid Al-Khalidy Asy-Syadzily Tabek Panjang Ampang Godang.
Syekh Abdul Wahid Al-Khalidy Asy-Syadzily Tobek Panjang Ampang Godang, guru Tan Malaka.
Pada tahun 1908, Tan Malaka bersekolah di Kweekschool (kini SMA Negeri 2 Bukittinggi), sekolah guru negeri, di Fort de Kock.
Di Kweekschool, Tan Malaka belajar bahasa Belanda dan menjadi pemain sepak bola yang terampil.
Menurut gurunya, G. H. Horensma, meskipun Tan terkadang tidak patuh, ia adalah murid yang sangat baik.
Ia lulus pada tahun 1913, dan kembali ke desanya. Kepulangannya akan ditandai dengan penganugerahan gelar adat yang tinggi sebagai datuk dan tawaran tunangan.
Namun, ia hanya menerima gelar.
Ia berhasil mendapatkan uang dari desa untuk melanjutkan pendidikannya ke luar negeri, dan ia berlayar ke Rotterdam pada tahun yang sama.
Pendidikan di Belanda
Sesampainya di Belanda, ia belajar di Rijkskweekschool (sekolah pendidikan guru pemerintah), Tan Malaka awalnya mengalami gegar budaya. Di sana, ia sangat meremehkan iklim Eropa Utara. Akibatnya, ia terinfeksi radang selaput dada pada awal 1914, dan ia tidak sepenuhnya pulih sampai 1915.
Selama berada di Eropa, ia menjadi tertarik pada sejarah revolusi, serta teori revolusi sebagai sarana untuk mengubah masyarakat. Inspirasi pertamanya tentang masalah ini adalah dari buku De Fransche Revolutie, yang awalnya diberikan oleh G. H. Horensma. Buku tersebut merupakan terjemahan bahasa Belanda dari sebuah buku oleh sejarawan Jerman, penulis, jurnalis, dan politikus Partai Demokrat Sosial Jerman, Wilhelm Blos, yang berkaitan dengan revolusi Prancis dan peristiwa sejarah di Prancis dari tahun 1789 hingga 1804.
Setelah Revolusi Rusia Oktober 1917, Tan Malaka menjadi makin tertarik pada komunisme dan sosialisme dan sosialisme reformis. Mulai membaca karya-karya Karl Marx, Friedrich Engels, dan Vladimir Lenin.
Ia juga mulai membaca karya-karya Friedrich Nietzsche, yang menjadi salah satu anutan politik awalnya. Selama ini Tan Malaka makin tidak menyukai budaya Belanda. Sebaliknya, ia lebih terkesan pada budaya Jerman dan Amerika Serikat. Ia bahkan mendaftar untuk Angkatan Darat Jerman, tetapi ditolak, karena tentara tidak menerima orang asing pada saat itu.
Di Belanda, ia bertemu Henk Sneevliet, salah satu pendiri Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), cikal bakal Partai Komunis Indonesia (PKI).
Tan Malaka juga menjadi tertarik pada Sociaal-Democratische Onderwijzers Vereeniging (Persatuan Guru Sosial Demokrat) selama ini.[15] Pada November 1919, Tan Malaka lulus, dan menerima diploma hulpacte (ijazah pendidikan keguruan.
Marxisme dan agama
sunting
Tan Malaka berargumen dengan kuat bahwa komunisme dan Islam sejalan, dan bahwa di Indonesia, revolusi harus dibangun di atas keduanya. Oleh karena itu, ia adalah pendukung kuat dari aliansi lanjutan PKI dengan Sarekat Islam (SI), dan merasa terganggu ketika ia berada di pengasingan, PKI memisahkan diri dari SI. Dalam skala internasional, Tan Malaka juga melihat Islam memiliki potensi untuk menyatukan kelas pekerja di sebagian besar Afrika Utara, Timur Tengah, dan Asia Selatan melawan imperialisme dan kapitalisme.
Posisi ini menempatkannya dalam oposisi terhadap banyak Komunis Eropa dan kepemimpinan Komintern, yang melihat keyakinan agama sebagai penghalang bagi revolusi proletar dan alat kelas penguasa.
Pendidikan
Menurut Harry A. Poeze, Malaka beranggapan bahwa pemerintah kolonial menggunakan sistem pendidikan untuk menghasilkan masyarakat pribumi terpelajar yang akan menindas rakyatnya sendiri. Malaka mendirikan Sekolah Sarekat Islam untuk menyaingi sekolah negeri.
Syaifudin menulis bahwa Malaka memiliki empat metode pengajaran yang berbeda: dialog, jembatan keledai, diskusi kritis, dan sosiodrama.
Dalam metode dialog, Malaka menggunakan komunikasi dua arah saat mengajar.
Selama mengajar di Deli, ia mendorong siswa untuk mengkritik gurunya, atau orang Belanda itu, yang sering salah. Di sekolah SI, ia memercayakan siswa yang mendapat nilai lebih tinggi untuk mengajar siswa yang nilainya lebih rendah.
Jembatan keledai terinspirasi oleh al-Ghazali; Selain menghafal ilmu, siswa juga diinstruksikan untuk memahami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Syaifudin menulis bahwa ini kebalikan dari konsep gaya bank, dan mirip dengan pembelajaran kontekstual.
Pada diskusi kritis, Malaka tidak hanya secara verbal memberikan suatu masalah kepada siswa, tetapi berusaha untuk mengungkapkan masalah secara langsung, metode ini mirip dengan metode pendidikan menghadapi masalah dari Paulo Freire.
Dengan metode keempatnya, sosiodrama, Malaka bertujuan agar siswa memahami masalah sosial dan menyelesaikan nya melalui role playing, serta memberikan hiburan untuk menghibur siswa setelah belajar.
Wiki sumber memiliki naskah asli yang berkaitan dengan artikel ini:
Gerpolek
Madilog dan Gerpolek, keduanya seringkali dianggap merupakan karya penting dari Tan Malaka.
Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia.
Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti. Bagi filsafat, idealisme yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan, pikiran dan penginderaan.
Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realitas nyata objektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama.
Bagi Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang pokok dan pertama adalah bukti, walau belum dapat diterangkan secara rasional dan logika tetapi jika fakta sebagai landasan ilmu bukti itu ada secara konkret, sekalipun ilmu pengetahuan secara rasional belum dapat menjelaskannya dan belum dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana.
Semua karya Tan Malaka dan permasalahan nya dilatarbelakangi oleh kondisi Indonesia pada masa itu.
Terutama rakyat Indonesia, situasi dan kondisi nusantara, serta kebudayaan dan sejarah yang diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalah itu.
Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang teoretis dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah ia cetuskan sejak tahun 1925 lewat Naar de Republiek Indonesia.
Jika membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (Gerpolek: Gerilya, Politik, dan Ekonomi; 1948), maka akan ditemukan benang putih keilmiahan dan ke-Indonesia-an serta benang merah kemandirian yang merupakan sikap konsisten yang jelas pada gagasan-gagasan dalam perjuangannya.
(Bersambung)
•Catatan Sejarah dari pustaka Nusantara.
Ditulis ulang Oleh Bang Beks, dalam mengenang pahlawan Tanah air.





