
Majalahhistory.my.id Jakarta -(16/08/2026).
*Menjadi oposisi pemerintahan*
Tan Malaka, 1945
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, ia mulai bertemu dengan bangsanya sendiri dan generasi muda. Ia juga mulai menggunakan nama aslinya lagi, setelah 20 tahun menggunakan nama alias.
Ia kemudian melakukan perjalanan ke Jawa dan melihat orang-orang kota Surabaya berperang melawan Tentara India Inggris pada bulan November. Ia menyadari perbedaan perjuangan antara rakyat di beberapa tempat dengan para pemimpin di Jakarta. Ia menilai para pemimpin terlalu lemah dalam bernegosiasi dengan Belanda.
Solusinya terhadap keterputusan yang dirasakan ini adalah dengan mendirikan Persatuan Perjuangan (Front Perjuangan, atau Aksi Bersatu), sebuah koalisi yang terdiri dari sekitar 140 kelompok yang lebih kecil, terutama tidak termasuk PKI.
Setelah beberapa bulan berdiskusi, koalisi tersebut resmi dibentuk dalam sebuah kongres di Surakarta pada pertengahan Januari 1946.
Koalisi mengadopsi “Program Minimum”, yang menyatakan bahwa hanya kemerdekaan penuh yang dapat diterima, bahwa pemerintah harus mematuhi keinginan rakyat, dan bahwa perkebunan dan industri milik asing harus dinasionalisasi.
Persatuan Perjuangan memiliki dukungan rakyat yang luas, serta dukungan dalam tentara republik.
Dengan Mayor Jenderal Sudirman menjadi pendukung kuat koalisi yang diorganisir Tan Malaka. Pada bulan Februari 1946, organisasi tersebut memaksa pengunduran diri sementara Perdana Menteri Sutan Sjahrir, seorang pendukung negosiasi dengan Belanda, dan Sukarno berkonsultasi dengan Tan Malaka untuk mencari dukungannya.
Namun, Tan Malaka tampaknya tidak mampu menjembatani perpecahan politik dalam koalisinya untuk mengubahnya menjadi kontrol politik yang sebenarnya, dan ia ditangkap tak lama kemudian, dengan Sjahrir kembali memimpin kabinet Sukarno.
Mendirikan markas di Blimbing
Setelah dibebaskan, ia menghabiskan bulan-bulan berikutnya di Yogyakarta, dan berusaha untuk membentuk sebuah partai politik baru, yang disebut Partai Murba (Partai Proletar), tetapi tidak dapat mengulangi keberhasilan sebelumnya dalam menarik pengikut.
Ketika Belanda merebut pemerintah nasional pada bulan Desember 1948, ia melarikan diri dari Yogyakarta, dan menuju ke pedesaan Jawa Timur, di mana ia berharap akan dilindungi oleh pasukan gerilya anti-republik.
Ia mendirikan markasnya di Blimbing, sebuah desa yang dikelilingi oleh sawah, dan menghubungkan dirinya dengan Mayor Sabarudin, pemimpin Batalyon ke-38 yang terkenal akan sifat kejam dan bengisnya. Menurutnya, kelompok Mayor Sabarudin adalah satu-satunya kelompok bersenjata yang benar-benar berperang melawan Belanda.
Penangkapan dan Kematian
Mayor Sabarudin, bagaimanapun, berada dalam konflik dengan semua kelompok bersenjata lainnya. Pada 17 Februari 1949, para pemimpin TNI di Jawa Timur memutuskan bahwa Sabarudin dan rekan-rekannya akan ditangkap dan dihukum sesuai hukum militer.
Pada tanggal 19 Februari, mereka menangkap Tan Malaka di Blimbing. Pada tanggal 20 Februari, Korps Speciale Troepen (KST) Belanda kebetulan memulai serangan bernama “Operasi Harimau” dari kota Nganjuk di Jawa Timur. Mereka maju dengan cepat dan brutal. Poeze menjelaskan secara rinci bagaimana prajurit TNI melarikan diri ke pegunungan dan bagaimana Tan Malaka yang sudah terluka masuk ke pos TNI dan langsung dieksekusi pada 21 Februari 1949.
Tan Malaka ditembak mati di kaki Gunung Wilis, Selopanggung, Kabupaten Kediri setelah penangkapan dan penahanan di desa Patje. Menurut Poeze, tembakan itu diperintahkan oleh Letnan Dua Sukotjo dari batalyon Sikatan, divisi Brawijaya.
Tidak ada laporan yang dibuat dan Malaka dimakamkan di hutan.
Pemikiran
(Marxisme dan agama)
Tan Malaka berargumen dengan kuat bahwa komunisme dan Islam sejalan, dan bahwa di Indonesia, revolusi harus dibangun di atas keduanya. Oleh karena itu, ia adalah pendukung kuat dari aliansi lanjutan PKI dengan Sarekat Islam (SI), dan merasa terganggu ketika ia berada di pengasingan, PKI memisahkan diri dari SI. Dalam skala internasional, Tan Malaka juga melihat Islam memiliki potensi untuk menyatukan kelas pekerja di sebagian besar Afrika Utara, Timur Tengah, dan Asia Selatan melawan imperialisme dan kapitalisme.
Posisi ini menempatkan nya dalam oposisi terhadap banyak Komunis Eropa dan kepemimpinan Komintern, yang melihat keyakinan agama sebagai penghalang bagi revolusi proletar dan alat kelas penguasa.
Pendidikan
Menurut Harry A. Poeze, Malaka beranggapan bahwa pemerintah kolonial menggunakan sistem pendidikan untuk menghasilkan masyarakat pribumi terpelajar yang akan menindas rakyatnya sendiri. Malaka mendirikan Sekolah Sarekat Islam untuk menyaingi sekolah negeri.
Syaifudin menulis bahwa Malaka memiliki empat metode pengajaran yang berbeda: dialog, jembatan keledai, diskusi kritis, dan sosiodrama.
Dalam metode dialog, Malaka menggunakan komunikasi dua arah saat mengajar.
Selama mengajar di Deli, ia mendorong siswa untuk mengkritik gurunya, atau orang Belanda itu, yang sering salah. Di sekolah SI, ia memercayakan siswa yang mendapat nilai lebih tinggi untuk mengajar siswa yang nilainya lebih rendah.
Jembatan keledai terinspirasi oleh al-Ghazali; Selain menghafal ilmu, siswa juga diinstruksikan untuk memahami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Syaifudin menulis bahwa ini kebalikan dari konsep gaya bank, dan mirip dengan pembelajaran kontekstual.
Pada diskusi kritis, Malaka tidak hanya secara verbal memberikan suatu masalah kepada siswa, tetapi berusaha untuk mengungkapkan masalah secara langsung, metode ini mirip dengan metode pendidikan menghadapi masalah dari Paulo Freire.
Dengan metode keempatnya, sosiodrama, Malaka bertujuan agar siswa memahami masalah sosial dan menyelesaikan nya melalui role playing, serta memberikan hiburan untuk menghibur siswa setelah belajar.
Madilog dan Gerpolek
Bab atau bagian ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan.
Madilog dan Gerpolek, keduanya seringkali dianggap merupakan karya penting dari Tan Malaka.
Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti.
Bagi filsafat, idealisme yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan, pikiran dan penginderaan. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realitas nyata objektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama.
Bagi Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang pokok dan pertama adalah bukti, walau belum dapat diterangkan secara rasional dan logika tetapi jika fakta sebagai landasan ilmu bukti itu ada secara konkret, sekalipun ilmu pengetahuan secara rasional belum dapat menjelaskannya dan belum dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana.
Semua karya Tan Malaka dan permasalahan nya dilatarbelakangi oleh kondisi Indonesia pada masa itu. Terutama rakyat Indonesia, situasi dan kondisi nusantara, serta kebudayaan dan sejarah yang diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalah itu. Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang teoretis dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah ia cetuskan sejak tahun1925 lewat Naar de Republiek Indonesia.
Jika membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (Gerpolek: Gerilya, Politik, dan Ekonomi; 1948), maka akan ditemukan benang putih keilmiahan dan ke-Indonesia-an serta benang merah kemandirian yang merupakan sikap konsisten yang jelas pada gagasan-gagasan dalam perjuangannya.
Pahlawan
Setelah Indonesia merdeka, Tan Malaka menjadi salah satu pelopor sayap kiri. Ia juga terlibat dalam Peristiwa 3 Juli 1946 dengan membentuk Persatuan Perjuangan dan disebut-sebut sebagai otak dari penculikan Sutan Syahrir yang pada waktu itu merupakan perdana menteri. Karena itu ia dijebloskan ke dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun. Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara.
Di sisi lain, setelah mengevaluasi situasi yang amat parah bagi Republik Indonesia akibat Perjanjian Linggajati 1947 dan Renville 1948, yang merupakan buah dari hasil diplomasi Sutan Syahrir dan Perdana Menteri Amir Syarifuddin, Tan Malaka merintis pembentukan Partai Murba, 7 November 1948 di Yogyakarta.
Setelah pemberontakan PKI/FDR di Madiun ditumpas pada akhir November 1948, Tan Malaka menuju Kediri dan mengumpulkan sisa-sisa pemberontak PKI/FDR yang saat itu ada di Kediri, dari situ ia membentuk pasukan Gerilya Pembela Proklamasi. Pada bulan Februari 1949, Tan Malaka ditangkap bersama beberapa orang pengikutnya di Pethok, Kediri, Jawa Timur dan mereka ditembak mati di sana. Tidak ada satupun pihak yang tahu pasti di mana makam Tan Malaka dan siapa yang menangkap dan menembak mati dirinya dan pengikutnya.
Menurut penuturan Harry A. Poeze, seorang sejarawan Belanda, menyebutkan bahwa yang menangkap dan menembak mati Tan Malaka pada tanggal 21 Februari 1949 adalah pasukan TNI di bawah pimpinan Letnan II Soekotjo (pernah menjadi Wali Kota Surabaya).
Batalyon tersebut di bawah komando Brigade S yang panglimanya adalah Letkol Soerachmad. dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya.
Keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno 28 Maret 1963 menetapkan Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional.
Setelah melalui berbagai penelusuran dan keterangan para saksi hidup, pada tahun 2007 ditemukan sebuah makam di Desa Selopanggung, Kediri, yang diyakini sebagai makam Tan Malaka.
Pada 21 Februari 2017, jenazah Tan Malaka secara simbolis dipindahkan dari Kediri ke Sumatera Barat.
Hal ini diupayakan oleh keluarga besar Tan Malaka dan kelompok yang tergabung dalam Tan Malaka Institute. Karena gagal membawa jenazah Tan Malaka secara utuh, mereka memutuskan untuk memulangkannya secara simbolis, yakni dengan membawa tanah dari pekuburan Tan Malaka.(Red)
Catatan Sejarah Nusantara
Ditulis Ulang Oleh Bang Beks dalam mengenang Sejarah Pahlawan Tanah Air.








